18 Oktober 2021

DESA SIDOHARJO

NYAWIJINING TEKAD AMBABAR KARAHARJAN

Pagelaran Reyog Lar Pitik (Bulu Ayam) Di Makam Mbah Gedong: “Masyarakat Percaya Bisa Segera Mendatangkan Hujan”

Sidoharjo, post. Makam Mbah Gedong merupakan salah satu makam yang sudah sangat lama dikenal oleh masyarakat yang terletak di barat daya kabupaten Ponorogo, tepatnya di Dukuh Sidowayah RT 001 RW 003 Desa Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo.

Keberadaan makam mbah Gedong ini tidak terlepas dari sejarah babat dukuh sidowayah dan penyiaran agama islam di tanah ponorogo khususnya dukuh sidowayah dan sekitarnya. Sebenarnya makam mbah Gedong adalah sebutan masyarakat sekitar, nama asli makam tersebut adalah makam seorang ulama bernama Syeh Hasan Muhidin, akan tetapi masyarakat lebih mengenal dengan sebutan makam Mbah Gedong.

Banyak masyarakat yang ziarah ke makam tersebut, utamanya pada malam jumat pon, karena dipercaya pada hari tersebut merupakan hari sakral di makam tersebut. Selain masyarakat setempat banyak juga yang datang dari luar desa,bahkan luar kota untuk melakukan ziarah di makam tersebut.

Suguhan atau persembahan kesenian Reyog Lar Pitik (Bulu Ayam) di makam mbah Gedong (Syeh Hasan Muhidin) yang sudah turun temurun ini tujuannya adalah untuk memohon kepada Allah SWT, karena masyarakat setempat menyakini bahwasanya dengan kegiatan tersebut dapat segera mendatangkan hujan sehingga para masyarakat bisa segera menggarap lahannya. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun pada masa memasuki musim penghujan.

Kegiatan yang dilaksanakan pada kamis, 17 Desember 2020 itu diawali dengan proses Genduri di makam tersebut pada pagi menjelang siang yang dihadiri oleh masyarakat sekitar dan perangkat desa serta para sesepuh kemudian sorenya dilanjutkan dengan prosesi ziarah makam dengan iringan Reyog Lar Pitik (Bulu Ayam) yang di ikuti dua ganongan dan dua jatilan serta penggiring dibelakangnya, tujuannya untuk melakukan penghormatan (Nyembah) ke makam Mbah Gedong (Syeh Hasan Muhidin). Setelah selesai melakukan penghormatan kemudain dilanjutkan dengan gebyakan reyog di tempat tersebut sampai selesai. Kemudian malam harinya di adakan pagelaran wayang kulit akan tetapi karena masih dalam masa pandemi covid-19 sehingga untuk pagelaran wayang kulit ditiadakan.

Rangkaian kegiatan tersebut semata-mata juga untuk melestarikan kebudayaan dan adat istiadat masyarakat setempat agar tidak punah termakan zaman dan bisa di teruskan oleh generasi-generasi sekarang. Mari sebagai generasi muda kita bersama-sama melestarikan kebudayaan dan adat istiadat yang sudah turun temurun di daerah kita sehingga kebuadayaan tersebut bisa tetap lestari